Beranda > Artikel Umum > Mental Orang Indonesia Tergerus Social Media?

Mental Orang Indonesia Tergerus Social Media?

Awal tahun 2012 ini ranah social media seperti facebook dan twitter ramai membicarakan berbagai berita, seperti dana renovasi DPR dan kantor Setneg yang membengkak hingga puluhan milyar rupiah. Yang tak kalah mencuatnya adalah berita tentang “Xenia maut” yang mengakibatkan beberapa orang tewas karena tertabrak di Tugu Tani, Jakarta.

Artikel ini saya tulis karena berangkat dari keprihatinan pribadi. Bukan untuk membela sang pengemudi yang saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun saya rasa telah terjadi “penghakiman massa” yang justru berada di luar konteks. Di ranah facebook dan twitter, si pengemudi “Xenia maut” yang belakangan diketahui bernama Afriyani Susanti, mendapat kecaman yang luar biasa kepada dirinya. Namun saya merasa berbagai kecaman itu sudah diluar dibatas kewajaran.

Berdasarkan keterangan polisi, sang pelaku mengendarai mobil dalam keadaan mabuk akibat terpengaruh minuman keras dan pil ekstasi. Dalam keadaan setengah sadar tersebut mobilnya oleng dan menabrak segerombolan orang yang tengah berjalan di trotoar. Nah, yang patut dicermati disini adalah Ia mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, yang mengakibatkan tewasnya orang karena tidak bisa mengkontrol laju kendaraan. Namun apa reaksi masyarakat di ranah social media? Mulai dari penghinaan secara fisik maupun stigma sebagai pembunuh meluncur deras tak terbendung.

Jika kita pikir lagi, siapa yang mau menabrak orang hingga tewas? Siapa juga yang menginginkan kecelakaan ini terjadi? Tidak ada satu pun yang ingin ini terjadi. Segala kecaman yang berada di luar konteks kepada Afriyani saya pikir tidak pantas. Seorang teman sampai mengatakan bahwa si pengemudi itu pasti akan masuk neraka. Siapa yang tahu dia masuk neraka? Memang kita siapa? Tuhan? Sampai bisa menetukan seseorang masuk neraka atau tidak?

Pagi hari ini saya dibangunkan dengan 3 buah BM (Broadcast Message) di Blackberry saya yang isinya ternyata sama. Isinya adalah kecaman yang lagi-lagi bernada tak puas karena Afriyani hanya dihukum 5 tahun. Saya tertawa kecil, siapa yang sudah menjatuhkan vonis hukuman 5 tahun? Apa memang sudah ada persidangan? Itu hanya ancaman hukuman belum vonis. Lagi-lagi kebanyakan orang tidak bisa berpikir secara jernih mana ancaman hukuman dengan vonis hukuman.

Saya pribadi juga kesal dengan Afriyani, kesal karena mengendarai mobil dalam keadaan mabuk, hanya itu. Terlebih hingga ada orang yang tewas, saya pikir itu murni kecelakaan. Stigma sebagai pembunuh hingga penghinaan secara fisik (maaf: gendut) saya rasa sudah tidak pantas. Facebook dan Twitter tidak bisa dipungkiri telah merubah manusia Indonesia, perubahan itu bisa dilihat dari “topeng muka dua” yang tercermin dalam status atau twit mereka. Saya rasa orang-orang yang menghina si pelaku takkan berani mengucapkan semua kecaman itu langsung dihadapan Afriyani. Mereka hanya berani berbicara di ranah social media karena merasa tak perlu bertemu langsung tapi tetap bisa mengeluarkan statement.

Orang yang di twitter terlihat ceria dan menarik belum tentu semenarik aslinya saat bertatap muka secara langsung, karena bahasa lisan dan bahasa tubuh takkan bisa terwakili oleh bahasa tulisan. Mau sampai kapan kita termakan budaya latah? Mengikuti apa kata orang yang belum tentu benar adanya. Apakah ini yang disebut mental orang Indonesia yang hanya berani berbicara di belakang tanpa berani mengungkapkan isi hatinya secara langsung? Saya berharap tidak.

Dalam kesempatan ini saya pribadi juga ingin mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Semoga mereka yang ditinggalkan dapat tabah dalam menjalani hidup. Dan khusus kepada Afriyani Susanti, jadikan ini sebagai pelajaran hidup Anda, dimana dalam keadaan mabuk, Anda telah mengakibatkan beberapa nyawa orang melayang. Tetap sabar dalam menjalani cobaan ini, karena Tuhan takkan akan memberikan cobaan yang takkan bisa dilewati oleh umatnya.

Fadly Molana

Menteng, 25 Januari 2012

  1. 25 Januari 2012 pukul 13:20 | #1

    socmed udah jadi dunia nyata ke 2.. media yg dinamis buat berekspresi sekarang ini.. hujatan cacian yg ditulis di kasus xenia udh jadi bagian di dlmny.. mungkin emang brlebihan.. kalo nggak gitu bukan endonesah namany…LOL

  2. iva
    25 Januari 2012 pukul 13:56 | #2

    iya. kadang ‘suara vonis’ yang mendominasi medsos bikin beberapa orang ( termasuk kita juga gak yaaaaaaaaah ? o.O? ) ogah mikir lebih jauh tentang suatu peristiwa ( apapun! ) n lebih milih ikutan ajah ( secara sadar ataupun enggak aka. nglindur dund gakakakk )
    tapi balik lagi ke masing2 pribadi sih* hiyalah.

    posting yang bagus :) good job. hehehe.

  3. 26 Januari 2012 pukul 13:53 | #3

    i couldnt agree more.
    more and more people blame her. more and more people make fun of her. and that’s just annoying…

    Afri’s choice to take some drugs and get drunk was stupid….she IS guilty for what she’s done, she IS GOING TO BE punished after the trial.
    i can understand if the victims were furious as they lost their love, they lost their relatives. it must be really difficult for them facing their relative’s death. i dont mind if they curse afri, if they hate afri.

    but who are we to mock Afri >..<

  4. 26 Januari 2012 pukul 13:54 | #4

    if afri were a close friend of yours aor a close relative of yours, what would you do? >.<

  5. 26 Januari 2012 pukul 23:38 | #5

    Di social media, orang bebas ‘berkicau’ sesuka hati, tanpa menelaah lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi. Itu jadi hal yang wajar, karena itu termasuk kebebasan mengemukakan pendapat. kicauan itu bisa jadi bahan acuan dan pertimbangan para ‘pemegang kekuasaan’ untuk menentukan keputusan akhir. Pasalnya, tak bisa dipungkiri social media saat ini sangat berpengaruh dalam mencermati atau mengubah pola pikir seseorang terhadap suatu kejadian. #just saying

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 214 pengikut lainnya.