I’M BACK!

Setelah terakhir memposting artikel pada 2014 silam, kini saya kembali! Banyak perubahan yang terjadi dalam hidup saya selama ini. Untuk mempersingkat, kini saya telah menikah dengan wanita pujaan saya sejak SD. Ya, istri saya sekarang adalah teman SD saya dulu di tahun 1992 hingga 1998. Untuk menambah kebahagiaan, kini kami telah dikaruniai seorang anak laki-laki. Namanya Rafif Athar Molana yang semoga menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjadi anak yang soleh. Amin.

                                                       The Molana’s

Itulah cerita singkat saya selama menghilang. Kini saya ingin kembali aktif menulis di blog sederhana saya ini. Ada keinginan untuk upgrade blog dan membeli domain, namun terbentur dengan cara pembayaran. Saya tipe orang konvensional, tidak punya kartu kredit dan paypall. Jadi, untuk sementara, biarkan blog ini menjadi tempat untuk menampung jari-jemari ini menari di atas tuts keyboard.

Doakan semoga gairah saya untuk menulis kembali hadir, dan semoga blog ini tidak kembali mati suri seperti kemarin. I’M BACK!

TERPUKAU KRAKATAU

Terpukau KrakatauPada tahun 1883 silam, tiga buah gunung berapi yang jaraknya berdekatan meletus. Letusan itu tak hanya mengeluarkan lava namun juga menghancurkan hampir sebagian tubuh tiga gunung itu, menghasilkan gelombang tsunami yang menelan hingga 36.000 jiwa. 45 tahun pasca letusan, di lokasi yang sama muncul gunung baru yang setiap tahunnya terus meninggi. Gunung itu bernama Anak Krakatau.

Berbaur di Sebesi

Ajakan seorang kawan untuk mengunjungi Gunung Anak Krakatau menarik perhatian saya. Tanpa berpikir dua kali, saya mengiyakan ajakan itu. Sudah lama memang saya ingin mengunjungi gunung yang terkenal sebagai gunung paling aktif di dunia itu. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Merak, Banten menuju Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Setibanya di sana, perjalanan masih dilanjutkan menuju Dermaga Canti melewati jalur darat selama satu jam.

Suasana malam di Pulau Sebesi   Suasana malam di Pulau Sebesi

Di Dermaga Canti, tampak kapal-kapal tengah bersiap untuk membawa beberapa wisatawan yang hari itu tampak memadati area dermaga. Rupanya keelokan Anak Krakatau telah tersebar luas dan menjadi salah satu objek wisata paling populer ketika akhir pekan. Seorang guide khas anak pantai bernama Andi menghampiri. Ialah yang akan mengantarkan sekaligus menemani saya dalam perjalanan kali ini.

Menjelang siang, kapal-kapal mulai meninggalkan dermaga, namun tidak langsung menuju Gunung Anak Krakatau melainkan ke Pulau Sebesi yang menjadi satu-satunya tempat menginap untuk para wisatawan. Tingginya gelombang laut sedikit membuat khawatir, mengingat ukuran kapal tidak terlalu besar. Namun sang juru kapal dengan lihai membelah ombak dan melaju di lautan lepas. Butuh waktu dua jam perjalanan untuk tiba di Pulau Sebesi dari Dermaga Canti. Continue reading

BERKUNJUNG KE RUMAH LORO JONGGRANG

Siluet Istana Ratu Baka
     Siluet Istana Ratu Baka

Setapak demi setapak anak tangga itu aku lewati. Udara sejuk pukul empat sore sedikit banyak membantu alur pernapasan yang sesekali ditopang dengan sebotol kecil air mineral compliment dari pembelian tiket masuk. Tak banyak pengunjung di Istana Ratu Baka pada hari itu. Pamornya memang kalah dibanding dengan Candi Prambanan yang berlokasi tak jauh. Seekor rusa yang tengah berbaring santai mendadak menatapku sambil menyeringai, seakan mengejek stamina yang tampak sekali sudah kewalahan menghadapi puluhan anak tangga yang baru saja aku lalui. Daripada Candi Prambanan, aku lebih memilih ke istana ini yang memiliki riwayat sebagai kediaman Loro Jonggrang, seorang putri yang kecantikkannya diirikan oleh banyak wanita.

Gerak gemulai para penari
     Gerak gemulai para penari

Di kejauhan, tumpukan batu berbentuk pintu gerbang istana yang sudah ada sejak masa Wangsa Sailendra tampak terlihat. Langkah aku percepat, dan kembali melambat ketika melihat anak tangga lagi. Mengeluh pun percuma, karena tak akan mengganti anak tangga itu menjadi eskalator. Pohon-pohon besar berdiri gagah di sekeliling area istana. Di balik bayangannya, tampak beberapa pasangan muda-mudi tengah bercengkerama. Di sudut lain, suara gitar nyaring terdengar. Sekelompok anak muda terdiri dari pria dan wanita memiliki caranya sendiri untuk menghabiskan waktu. Salah satu wanita dari mereka menyadari kehadiranku, dan tersenyum. Aku balas senyuman itu, walau aku tahu, senyuman yang dia berikan bernada rasa heran. Ia baru saja melihat seorang pria bercelana pendek lusuh dengan tas besar di punggungnya, kamera menggantung di lehernya, dan keringat yang membasahi kaosnya. Khas turis sekali. Terlebih ia melihat turis itu datang sendirian ke tempat yang justru jadi lokasi berkasih para pasangan. Aku tahu apa yang ia pikirkan, tapi apa peduliku? Sebagai gantinya, aku berikan padanya senyuman manis dari balik wajah penuh keringat ini. Continue reading

HONG KONG DI KALA HUJAN

Awan hitam enggan pergi dari langit Hong Kong
     Awan hitam enggan pergi dari langit Hong Kong

Hujan menyambut kedatanganku di Hong Kong International Airport, sementara waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Pantas bandara ini terasa sepi, hanya ada beberapa orang termasuk mereka yang satu penerbangan denganku tengah berjalan perlahan menahan rasa kantuk menuju baggage claim. Setelah urusan bagasi selesai, seorang pria bertubuh tinggi besar, sedikit tambun, dan rambut klimis menyambut di muka bandara. Dialah Mr William Yung, atau yang ingin dipanggil Pak William, yang menjadi pemandu selama di Hong Kong. Dia bisa bahasa Indonesia, walau membutuhkan sedikit pendengaran yang baik untuk dapat mengerti apa yang ia ucapkan. Lafalnya belum begitu jelas, dan logatnya pun terasa aneh, tapi setidaknya ia sudah berusaha.

Kumuh Yang Tertata Rapi

Kumuh namun rapi
     Kumuh namun rapi

Tak banyak yang bisa aku nikmati di Hong Kong, karena cuaca sangat tak bersahabat. Hujan tak kunjung berhenti, sementara hampir semua objek wisata yang datangi berada di area terbuka. Gerutu, walau tak memaki, sedikit banyak keluar dari mulut ini. Sementara itu Pak Willam masih antusias memberikan beberapa keterangan tentang negaranya, dan dari dirinya aku mendapat begitu banyak pengetahuan tentang negara asal Jackie Chan ini. Kesan pertama terhadap Hong Kong adalah kumuh yang tertata rapi. Ya, kesan kumuh didapat dari banyaknya apartemen dan rumah susun sebagai tempat bermukim warganya. Hong Kong jarang memiliki rumah-rumah seperti di Indonesia. Kalaupun ada, mungkin yang tinggal di rumah itu adalah orang kaya. Rumah-rumah di Hong Kong semua bersusun dan menjulang tinggi ke atas dengan sebatang kayu membentang dari setiap jendelanya sebagai tempat untuk menjemur pakaian. Namun semua apartemen itu posisinya disusun dengan amat teratur sehingga terlihat rapi. Sulit menjabarkannya. Ibaratkan saja kumpulan sampah yang disatukan dan dibentuk menjadi karya seni dan diletakkan sebagai pajangan. Kira-kira seperti itu. Continue reading

MENYAPA SANG FAJAR DI PUNTHUK SETUMBU

Kabut pagi menyelimuti sekitaran Candi Borobudur
     Kabut pagi menyelimuti sekitaran Candi Borobudur

Candi Borobudur sebagai candi terbesar di Indonesia memang sangat menawan, tidak hanya dilihat dari dekat, tapi juga dari jauh. Salah satu spot untuk melihat Candi Borobudur dari kejauhan adalah di Punthuk Setumbu. Sudah sejak lama saya ingin mengunjungi tempat ini yang merupakan lokasi untuk menangkap sunrise terbaik. Sehari setelah perayaan Waisak, saya menuju Punthuk Setumbu.

Langit pagi di Punthuk Setumbu
     Langit pagi di Punthuk Setumbu

Punthuk Setumbu berada di sekitar empat kilometer arah barat Candi Borobudur, tepatnya di Desa Karangrejo, Kabupaten Magelang. Jika Anda ingin melihat sang surya menampakkan wujudnya di bukit ini, disarankan untuk mengunjunginya saat pagi buta, sekitar jam empat pagi, dan itu yang saya lakukan. Sambil melawan rasa kantuk, saya berjalan menuju puncak. Continue reading

RIUH RENDAH PERAYAAN WAISAK

Patung Buddha dengan Candi Borobudur sebagai latar belakang
     Patung Buddha dengan Candi Borobudur sebagai latar belakang

Untuk kesekian kalinya, perayaan Hari Raya Waisak digelar di Candi Borobudur. Seperti pada perayaan pada tahun-tahun sebelumnya, perayaan untuk umat Buddha itu selalu dipadati pengunjung, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Keberadaan para wisatawan tersebut sempat dikritik lantaran menggangu jalannya prosesi ibadah. Namun di lain sisi, pihak panitia justru membuka pintu lebar-lebar kepada wisatawan sejak siang hari. Saya berada di sana untuk meliput dan melihat dari dekat prosesi ibadah Waisak.

Candi Agung Borobudur
     Candi Agung Borobudur

Perayaan Hari Suci Waisak memang telah menjelma menjadi objek wisata yang populer. Sejak sore hari wisatawan dan umat Buddha telah ramai memadati kawasan Candi Borobudur. Mereka yang datang mempunyai kepentingan pribadi, ada yang ingin beribadah, ada juga yang ingin mengabadikan momen langka yaitu diterbangkannya lampion. Ya, pihak panitia Waisak memang telah menjanjikan akan menerbangkan 1000 lampion, lebih banyak dari perayaan Waisak tahun-tahun sebelumnya. Continue reading

MONAS, RIWAYATMU KINI…

Monas
     Monumen Nasional

Apa yang terlintas di benak kalian ketika pertama kali mendengar nama Monas? Bagi warga ibu kota negara ini, Monas mudah untuk ditemui, namun seberapa sering Anda mengunjunginya? Mungkin ada dari kalian yang belum sekalipun mengunjungi Monas karena “sudah sering lihat” ketika berangkat atau pulang kerja.

Namun bagi orang daerah, Monas merupakan tujuan utama mereka berwisata ketika datang ke Jakarta. Ya, Monas sejatinya bukan hanya milik warga Jakarta, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia. Mudah saja untuk mencari tahu. Dari namanya saja sudah jelas yang berupa singkatan dari Monumen Nasional, bukan Monjak atau Monumen Jakarta.

Suasana Museum Monas
     Suasana di dalam Museum Monas

Sebagai orang daerah (walaupun tinggal di Tangerang), saya sering mengunjung Monas. Tidak hanya sekedar berkunjung, tapi juga masuk ke dalamnya. Namun ada satu yang tertinggal, saya belum pernah menginjakkan kaki di puncaknya. Ingin sekali rasanya menaiki puncak Monas dan melihat panorama Kota Jakarta dari ketinggian 132 meter. Continue reading